Rabu, 08 Agustus 2018

Kaderisasi Pasif.

Kaderisasi Pasif.



Gerbang utama merubah sebuah organisasi.
Kalau kalian ada kegelisahan sampaikan saja, apalagi kegelisahan angkatan
Ditambah, mereka yakin bahwa pengganti2 mereka adalah orang2 yang tak kalah hebat, yaitu junior2 mereka, hasil kaderisasi HMS yang cerdas dan efisien. Kaderisasi yang mebuat putra – putri terbak bangsa yang memasuki gerbang perkulahan sadar bahwa himpunan bukanlah beban, bukanlah pilihan, bukanlah kewajiban, namun himpunan adalah sebuah kebutuhan. Tidak ada lagi him-nonhim karena seluruh peserta kaderisais paham betul apa arti berhimpun dan tidak ada orang yang sebodoh itu untuk melewatkan berkarya dan berkeluaga dalam sebuah himpunan yang jaya.

Baca selengkapnya

Forbas


DARIPADA RAGU LEBIH BAIK PULANG
HMS ITB turut berduka atas geliat kemahasiswaan yang sudah tak jelas arah substansinya. Tulisan ini keluar sebagai langkah awal pernyataan sikap dan wanti – wanti dari HMS ITB terhadapanya kegagalan sistem kemahasiswaan kita sekarang.
Puluhan postingan, ratusan komentar, dan ribuan orang telah membaca mengenai semua gerakan KM ITB saat ini. Huru – hara tentang forbas kali ini serasa muncul lebih dulu daripada esensi nya itu sendiri. Gerakan ekstremis untuk melakukan perubahan yang masif menjadi sebuah output keharusan. Tapi tidaklah kalian berpikir sejenak, apa sebenarnya yang kita harapkan dari semua hal ini?
Kita serasa tahu akan segalnya, dan menyambut forum hari ini seperti sebuah ajang eksistensi ataupun penghakiman tak berarah. Seberapa banyak curah pikiran yang kita habiskan dengan semua retorika ini, sedangkan agenda – agenda penitng lainnya yang harusnya dikawal, tersisihkan begitu saja. Tak pedulikah kita tentang nasib gerakan kemahasiswaan yang akhirnya tidak terekskalasikan dengan baik seperti AMI, Olimpiade KM ITB, Kolaborasa yang bahkan lebih ditunggu manfaatnya. Kepedulian kita redup dan dibutakan dengan huru – hara hingga lupa mengawal gerbang awal kemahasiswaan awal kita yaitu, OSKM.
Saya tidak yakin, apakah kalian memikirkan bahwa tindakan ini adalah tindakan yang benar? Kalian cenderung setengah2 melakukannya. Setengah maju, setengah ragu. Lalu sebenarnya narasi besar apa yang ingin kita bawa setelah pergolakan ini. Apakah KM ITB akan benar – beanr berubah sertelh forum ini selesai. Masih adakah wacana untuk mempertanyakan kembali KM ITB?
KM ITB tidak terbuat dari kebanggan yang sama, tapi kesamaan nasib anggotanya. Terbangun dari rasa memikiki anggota yang berjanji untuk saling peduli. Di tanah ganesha ini, gerakan kemahasiswaan sangat memberi arti  yang seharusnya membuka ruang untuk saling menghargai. Sistem KM ITB saat ini mungkin belum yang terhebat. Tapi tidak sepantasnya kita hanya sebagai kaum yang hanya mengutuk kebrorobokan system KM ITB saja, tanpa mau membangunnya dari akar rumput nilai luhur kemahasiswaan kampus kita. Jika ehendak untuk memperbaki system secara bersama-sama sudah musnah, niscaya semua mimpi dan harapan untuk kemahasiswaan yang lebih baik akan sirna. Keinginan hanya bisa terlaksana, jika kehendak bisa menjalar pada semua.
“Daripada Ragu Lebih Baik Pulang” Sebuah Alegori yang terpapampang nyata di gerbang masuk HMS ITB, menjadi sebuah prinsip yang mendarah daging bagi kami guna menandakan keyakinan dalam melakukan sesuatu.
Kata yg menggambarkan bahwa tidak ada hal yg bisa membawa dirimu kemana saja kecuali pikiranmu sendiri. Adalah hal penting bagi tiap langkah kehidupan, hingga di tiap langkahnya kami diajarkan perlu tahu kenapa harus melangkah, Jangan pernah melangkah jika kau sendiri merasa tak yakin dengan itu. Bukan untuk menunjukkan bahwa kami adalah kaum yang paling benar, tapi sebagai guratan emosional dan saran perbaikan bersama agar diversifikasi gerakan yang ingin diusung itu nyata adanya.
Kegagalan kali ini bukanlah salah individu ataupun kelompok. Tapi kesalahan Bersama semua elemen KM ITB. Untuk Itu kami menghimbau kepada elemen – elemen terkait yang ada di KM ITB : “Daripada Ragu, Lebih Baik Pulang”
1.    Kabinet KM ITB, sebagai ekskutif KM ITB. Pelopor perjuangan dan pergerakan utama, juga sebagai terang dan redupnya di kemahasiswaan kampus ini. Kami berpesan, Pemimpin yang bijak, tahu kapan saatnya harus bertindak. Mencari jalan tengah sesuai kebutuhan dari anggota sebagai basis landasan utama. Tidak semena – mena tanpa mengabari sebelumnya. Pengambilan keputusan haruslah represnntatif, maka dari itu jangan Cuma reaktif, tapi harus punya inisitaif.
2.    Kongres KM ITB, sebagai puncuk pimpinan landasan  kemahasiswaan kampus ini. Sebagai penentu sukses dan gagalnya system KM ITB. Pada konsepsi jelas tertulis kelemahan sistem KM akan muncul apabila kongres tidak mampu menjalankan kekuatan kontrolnya. Taat pada aturan memang penting, tapi mendobrak kebekuan tidak kalah genting. Jangan terlalu ribet melulu masalah birokrasi, di sisi lain pengambilan sikap berani tetap harus dieksekusi.
3.    HMJ sebagai basis keterwakilan massa KM ITB. Selayaknya harus juga peduli terhadap semua permasalahan sistem yang terjadi. Salah jika dirasa mengawal KM ITB sebagai bagian kontribusi eksternal dinilai tidak ada manfaatnya. Justru dengan berkutat hanya dengan urusan internal saja, organisasi lambat berkembang. Tertulis dalam Konsepsi KM ITB , pada langkah terakhir, apabila KM ITB mengalami krisis akibal kontrol kongres KM ITB tidak bejalan semestinya, maka menjadi tugas HMJ dan unit melakukan kontrol aktif secara informal. Dan penting bagi seluruh HMJ untuk membawa massanya paham akan arti penting KM ITB untuk Bersama.
4.    Teruntuk Massa KM ITB, yang masih merasa menjadi anggota KM ITB tanpa terkecuali Semua huru – hara yang terjadi adalah kesalahan bersama. Kita seperti kucing dan anjing yang kejar -kejaran saling bersuara tanpa mau menyelsaikan permasalahan secara bersama. Sebagai pihak yang punya kepentingan, dan ingin suaranya dan kegelisahannya didengar, Kita sudah bukan menjadi seorang gentleman yang duduk berdiskusi saling menyuarakan tesis-antitesis sehingga keluar solusi yang diterima bersama. Bukan malah saling mengutuk tanpa kejelasan. Di sisi lain, hasil dialektika kusir ini mengakibatkan pihak2 lain yang sejujurnya tidak tahu akar masalahanya jadi ikut terpantik tak mau tinggal diam. Hanya asik – asikan meramaikan ketidakjelasan ini.. Bukankah melelahkan jika selalu ikut tren, apalagi hanya agar dianggap keren. Maka jadilah seorang pembaharu yang berdampak, daripada terus mengikuti arus, hidup seperti tidak ada maknanya.
Seharusnya kita tahu bos, ketika KM ITB dilanda pergolakan, membuat ketidaksabilan system akan terjadi dan berdampak pada gerakan – gerakan lain yang lenggam dan tak terkawal dengan baik. Lalu apa yang akan menajdi kontrribusi kita terhadap bangsa ketika KM ITB sudah tidak bisa menjadi landasan kita dalam bergerak Bersama. Padahal Landasan demokrasi saat ini dirintis oleh senior kita yang memutuskan utuk menjadi martir. Tugas kita saat ini adalah membangun KM ITB mulai dari sekarang leawt kerja, cipta, karya, karsa, dan cinta.
Sekali lagi HMS Turut berduka atas geliat kemahasiswaan yang salah arah ini Semoga kasus ini menjadi pembelajaran kita Bersama untuk meningkatkan awareness terhadap semua kondisi kemahasiswaan yang terjadi. Dan menjadi mandat kedepannya agar semua elemen di dalam KM ITB yang bergerak mempunyai dasar pacu yang jelas dan tidak asal hanya ingin meraih eksistensi semata, tanpa menemukan makna luhur didalamnya Maka dari itu kami menghimbau, Cukupkan semua retorika ini, jika kita sebenarnya tak pernah tahu akan dibawah kemana pergolakan ini. Daripada Ragu Lebih baik pulang!
@Ahmad Wali Radhi kami tunggu komitmen perbaikanmu!
Di Bawah Matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan Maksud baik kita. Berdiri di pihak yang mana
Lih Rendra, sajak pertemuan mahasiswa 1977.

Baca selengkapnya

Minggu, 05 Agustus 2018

Rabu, 01 Agustus 2018

WISUDA HMS ITB
















Sebenarnya telah lama niatanku untuk menulis tentang kegiatan wisuda khususnya wisuda di HMS namun selalu kandas termakan sibuknya KP. Ya, KP memang menyibukkan sekali. Tapi akhirnya, KP bisa selesai juga, walau tinggal laporan. Curhat 😊

Secara definisi, Wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Tapi bagiku, dan anak – anak HMS, Wisuda itinya Apresiasi. Ya, mungkin inilah puncak apresiasi dari segala bentuk apresiasi yang ada di HMS. Bagi wisudawan/wisudawati, wisuda merupakan tempat mereka terakhir di HMS sebelum dinonhimkan dan dilepas ke luar sana. Dan sudah selayakanya ini waktunya mereka untuk diapresiasi dari semua jerih payah yang ada di HMS.

Selain tujuan lain apresiasi, tujuan lain dari wisuda yaitu bagaimana meningkatkan rasa kekeluargaan dan kesatuan angkatan salah satunya. Ranah wisuda di HMS adalah ranah kaderisasi aktif bagi anggotanya, khususnya angkatan bawah.  Wisuda ranah yang sangat sakral, bagian dari kaderisasi aktif HMS. Entah kenapa semenjak aku jadi kahim, aku baru merasakan sebuah integrasi yang hebat dalam setiap proses berhimpun disini. Mulai dari ketika kita masuk sampai ranah menjadi pemegang estafet kepemimpinan. Rasanya tak hentinya diriku dibentuk dan ditempa dalam proses yang tidak instan dan berkesinambungan. Dan ini semua termaktub dalam jenjang kaderisasi HMS ITB. Mulai dari proyek angkatan – wisuda oktober, hingga ketika mereka jadi pengurus yang bertanggung jawab atas terlaksanannya kegiatan proyek angkatan – wisuda oktober. Terus seperti itu, dan tidak pernah ada satu pun yang terlewat. Memang HMS hanyalah sebuah wadah, tapi wadah ini begitu memberikan banyak ilmu bagi mereka yang mencarinya.

Rangkaian Wisuda ini dimulai dari langkah awal yaitu terbentuknya panitia yang mengurusnya.  Panwis merupakan angkatan paling junior. Jika BP saat itu angkatan 2015, maka panwis harus dari angkatan 2016 atau dibawahnya lagi.  Proses terbentuknya panwis diawali dari pemilihan kawis (ketua wisuda) terlebih dahulu, dan semuanya diserahkan kepada angkatan. Karena kembali lagi, ini jenjang kaderisasi angkatan. Dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka. Dan semua nya mereka lah yang bertanggung jawab. Karena mereka lah yang memulai dan akan mengakhiri semua prosesnya. Entah diakhiri dengan senyuman dan tepuk tangan, atau kekecewaan dan kesedihan. Ini juga merupakan tugasku untuk mendidik mereka agar mantap dalam melangkah dan menentukan pilihan.

Setelah Kawis terpilih dari angkatan, selanjutnya kawis ini menyusun perangkat wisudanya yang dinamakan panring (panitia inti/perangkat wisuda) dari mereka. Metodenya dikembalikan kepada kawis nya, ingin closerec ataupun oprec. Ranah yang harus dilalui selanjutnya adalah menyusun staff – staff dari divisi – divisi yang telah dibentuk sembari menjalankan tugas – tugas kepantiian yang harus terus jalan  3 divisi yang paling penting dari kepanitiaan wisuda ini adalah Acara,LO,Lapangan.Sisanya adalah pengembangan dan supporting system yang berperan membantu keberjalanan divisi – divisi di atas agar acara berjalan sukses. Seperti : Artistik, PubDok,Administratif, dll.

Dimana letak peran BP? Ohiya sebelumnya departemen yang dalam hal ini paling bersinggungan dengan wisuda adalah Kesra dan Kaderisasi. Disini merekalah Departemen yang paling mengawal wisuda sekaligus tugas-pokok-fungsi mereka. Peran BP disini adalah mengawal keberjalanan wisuda agar lancar sampai akhir. Nilai dan budaya yang panwis belum pernah mendengar, wajib BP ajarkan. BP punya tanggung jawab besar dalam mengawal ini. Dan terlebih selalu diadakan persentasi ke BP setiap minggunya. Inilah wadah dimana BP bisa berkontirbusi dalam wisuda.

Selain itu, juga ada ranah juga pengawalan dari massa dalam hal persentasi massa, atau biasanya juga dilakukan hanya dengan persentasi wisuda. Harusnya persentasi ini ga hanya sekali, karena tuntutan kaderisasi dan penciptaan pola pikir. Selain itu jika hanya persentasi dilakukan sekali, lalu inputan ini dianggap sebagai apa kalau teknis sudah jadi.

Setelah melalui proses yang panjang dan melehkan, maka selanjutnya adalah eksekusi. Rangkain yang ada terdiri dari wisnite, syukwis prodi, dan wisday.
Wisnite merupakan acara malam perpisahan yang berisi banyak seru - seruannya. Jadi disini mereka disuguhi banyak games dan hiburan dari angkatannya yang belum lulus, maupun dari angkatan bawah. Wisnite biasanya merupakan rangkaian acara yang paling menghabiskan banyak dana. Sebuah hal yang wajar, karena disini lah acara yang bisa mencampurkan senyum di pipi sekaligus haru di muka. Ya,banyak acara hiburan dan juga tidak ketinggalan ada acara refleksi juga. Wisnite ini menyajikan sebuah tumpah ruah dalam satu acara pada malam itu juga. Mulai dari perform angkatan, game – game receh, hingga refleksi.

Syukwis Prodi, adalah acara dari prodi resmi sebagai acara syukuran untuk melepas wisudawan yang telah lulus. Acara ini biasanya berisi sambutan kaprodi, dosen, mahasiswa berperestasi, dan diakhiri dengan makan Bersama.

Wisday merupakan rangkaian puncak wisuda merupakan acara resmi dari HMS mulai dari penyambutan di sabuga, arak – arakan sampai penon-himan. Ya, Disini para LO wisudawan/wisudawati bertumpah ruah menghampiri dan melayani kebutuhan wisudawannya. Setelah itu dilanjutkan arak – arakan wisuda dari mulai sabuga – tangga spiral -saraga – tunnel – jalan mesin – hingga berakhir di depan sekretariat hms di jalan C. BIasanya ada yang Namanya Lorong apresiasi tergantung kebutuhan massa. Selanjutnya dilakukan prosesi pelepasan dari angkatan. Selanjutnya semua nya di akhiri dengan penonhiman.

Ya, itu semua rangkaian panjang wisuda. Mengapa bagi kami wisuda penting, karena tak ada yang lebih tinggi daripada sebuah ranah apresiasi untuk mereka yang telah berkontribusi di HMS.

Hey kuy, lihatlah bos-bismu ini,
yang siap menantang kerasnya cakrawala negeri
Dengan semua nilai – nilai yang telah diberi
Sebentar lagi kami yang akan memegang pergerakan bangsa ini.

Hey bos, lihatlah kuya-kuyimu ini
Kami, yang sealu bersemangat untuk mengawalmu.
Menjunjung tinggi apresiasi untukmu
Sebagai balas budi atas semua jasamu
Sekian



Baca selengkapnya
Sekarung Ilmu dari BOS Heru HMS'05

Sekarung Ilmu dari BOS Heru HMS'05


Sebuah keberentungan bagiku, malam 31 Juli 2018 Aku bisa bertemu dengan Bos Heru HMS’05. Beliau dulu menjabat sebagai kahim pada zamannya. Dan sempat memegang tanduk kepemimpinan di kongres walau udah tingkat akhir. Mungkin ceritaku agak sedikit acak. Karena aku menuliskannya di sebuah kertas kosong yang kudapat di sekitar meja obrolan kami.
Aku mulai tertarik dengan diskusi ini, ketika Bos Heru bercerita bagaimana dulu HMS selalu stance out. Bahkan HMS pun selalu menjadi rujukan dari Himpunan  - himpunan lain. HMS selalu punya pendirian (hal yang sama ketika diajarkan oleh bos Enda). Dan saat itu juga HMS sangat sering dan getol dalam mengeluarkan kajian, baik internal dan eksternal. Ya karena mungkin dulu anak – anak dengan belum nyampenya kemudahan teknologi masih mau diajak berpikir kritis, tidak seperti sekarang yang ketika ada apa – apa tinggal megang satu kotak kecil yang ada di samping kita, Smartphone. Kajian ini ga hanya keprofesian tapi juga kajian tentang kemahasiswaan. Disebutkan pada zaman itu TPB mulai berlaku pada angkatan 2006, jadi semua himpunan harus memutar otak untuk membuat jenjang kaderisasi baru. Otomatis, karena Masa OS juga berubah. Beberapa yang Bos heru bilang dokumen kajiannya, seperti grand desain kemahasiswaan, dan grand desain kaderisasi. Bos heru yang dulu sempet dicalonkan menjadi presiden KM ini, lantas saya tanyai mengenai file2 dokumennya karena menarik sekali untuk dijadikan arsip. Namun saying Bos heru laptopnya hilang, dan data2 file nya terakhir ada di laptop itu. Ada kemungkinan di computer sekre, tapi aku sendiri ga tau bagaimana nge-trace nya.
Lanjut ke masalah internal di HMS. Sempat kutanyai bagaimana antusiasi berhimpun pada masa dulu. Bos heru langsung bilang kalau zaman dahulu sangat rame untuk berhimpun. Karena keinginan untuk HMS dulu ada dari diri sendiri. Bukan dipaksakan. Orang mundur pas hari pelantikan pun ada, karena tadi HMS bukanlah sebuah pilihan tapi sebuah kebutuhan. “Kau mau jaket? Ambil!” Bos heru memulai paradoksnya. Ya, banyak obrolanku tentang kaderisasi ini. Dulu melaksnakan kaderisasi sangat terkendala constrain aplaagi dari Kaprodinya dulu Bu herlien. Bahkan bu herlien sangat memaki angkatan BP pada saat itu. Tapi Bos Heru, gentle. Dia selalu mengabari Kaprodi, dan tidak menutup – nutupi semua proses kaderisasi yang ada. Asal semua sesuai peraturan. Disini lah letak makna Bos selalu benar. Bos mengacu kepada semua anggota HMS. Bahwa diitik ini lu dijui, bahwa keberanian lu ngelakuin hal yang benar dan tidak takut pada resiko apapun. Disini juga dipantik ke mereka (anak2 kaderisasi) tentang esensi berhimpun. HMS ga cuman CV, ga cuman relasi, tapi kebaktian terhadap prosesnya dan jenjang kaderisasi yang ada. Bos heru mengingatkan tentang filosofi kaderisasi sampai mampus. Karena kaderisasi emang ga pernah berakhir, pasti selalu ada sampai nanti bahkan di dunia kerja pun iya. Lalu apa yang masih kalian banggakan sebagai anggota HMS? Apakah sekedar mengaku HMS untuk memudahkan mendaptkan tempat kerja. Bullshit. Kalian mengkhianati diri sendiri.
Aku pun bertanya tentang sekarang HMS seperti kehilangan stance nya. Kita semakin tidak punya warna dan semakin abu – abu. Hal yang bisa menjaganya adalah swasta jawab bos heru. Peran swasta inilah yang merupakan peran penting dari HMS dan kultur nilainya. Aku sempat diingatkan juga tentang filosofi ilmu-logika ketika di lantik.
“Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku”
“Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka seluruh anggota HMS adalah keluargaku”
DIsini lah andilku dalam membuat massa yakin, dan tunduk kepadaku. Jadi aku punya power merubah besar. Ga ada massa yang akan menjelekkan kahimnya di depan umum. Ketika Kahim bilang “Bang, nanti interaksi massa ga boleh keluar ya”. Ga ada massa yang keluar, semua nunggu di sekre. Inilah contoh role model (swasta) yang baik yang akan dipanut oleh adik – adik tingkat untuk mulai menjaga nilai.
Dan jika ada anggota yang sedang ada masalah, dia adalah keluarga lu. Bantu dia siapapun dia. Itu esensinya. Masalah diselesaikan secara gentle. Dulu Bos heru sempet bercerita bagaimana angkatannya mau berantem sam angkatan swasta. “Udah capek  - capek nyiapin wisuda, tapi dimaki”, Anj*ng lah”. Kaca depan sekre pun akhirnya pecah, dan pecanya juga udah sering (waw serem). Tapi masalah diselesaikan hari itu juga. Ga dibawa ke rumah, ga kaya anak kecil. Ada masalah kita obrolin dan selesaikan hari itu juga. Besoknya kita ber-HMS seperti biasa lagi. Jadi ga ada orang yang trauma terus kabur setelah ada masalah.
Bang Heru juga menitipkan pesan untuk pentingnya bermain peran di HMS. Jika konteksnya BP, bikinlah peran dan goals itu. BP harus kuat, BP harus KOMITMEN sama apa yang dipegangnya. Sekali lagi BP bukan lagi kerja di kantor. “Kau pikir kantor, cuman datang – pergi.” Disini rumah. Disini saudara. Ditekankan BP yang saling integrasi.
 Lalu bang heru juga menitipkan ke swasta juga main peran, siapa yang jadi breaker. Siapa yang jadi destroyer, siapa yang jadi penyemangat, dll.
Intinya tugasku adalah ningkatin awareness massa buat HMS. Ingat visi lu dan capai itu. Jangan lupa untuk ngelibatin alumni ketika dirasa kalian juga udah tidak mampu. Bos heru mengatakan , alumni pasti mau bantu. Emang apa yang diharpkan alumni buat dating ke sekre? Ga ada hanya sekedar kecintaan yang ingin dituntaskan aja terhadap himpunan. Beda sama himpunan lain, Alumni HMS pasti datang ke sekre dan menyempatkan bukan di kafe dll. HMS diharpkan jangan cuman EO nya Alasi. Ingat mereka adalah MITRA jadi ditempatkanlah kepada ranah seahrusnya. Kalian juga harus dapat manfaatnya, dan bukan hanya sekedar relasi ingat.
Terakhit aku berusaha mengingat misiku sebagai kahim
#HMS Reborn
#Explore HMS
#HMSku Rumahku
Dimana aku ingin merubah HMS menjadi tempat yang nyaman untuk semua anggota dapat berkontribusi dengan salah satunya adalah merubah system yang ada biar saling mendukung satu sama lain. Jangan lupa periksa ketercapaian step by step. Ingatkan lagi bahwa kaderisasi itu sacral. Lalu ngapain sih? Itulah yang harus dijawab. Jangan cuman jadi sekedar hubungan transaksional, pun dengan BP – Bpku. Gali lagi kecintaannya. Dan kaderisasi paling efektif adalah dengan by example. “HMS itu manfaatnya gede banget, bos!” bos heru mencoba mnegingatkan kembali. Pola pikir dll itu yang dikembangkan. Orang semakin mengutuk proses karena ya zaman sekarang.  Dan terakhir aku diingatkan kalau ada masalah apa2 cerita lah ke grup. Apalagi grupnya sudah ada kan di WA.
Mungkin aku kurang capek sebagai kahim. Mungkin aku kurang peduli kepada yang lain sebagai kahim. Ya aku akan segera mulai berubah? Mulai kapan? Detik ini.
Sekian


Baca selengkapnya