Minggu, 25 Juni 2017

Ramadhan 2017

Tak terasa ramadhan selesai
diujung malam, menuju fitrah yang suci.
- lirik lagu digubah dan dinyanyikan dengan lirik Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Yaa setiap ramadhanku pasti banyak cerita masing - masing dan pastinya berbeda. Apalagi ramadhan hari ini. Entah kenapa jadi mau berbagi cerita pada diary online ku tercinta ini.

Yapp, perjalanan pertama dimulai ketika aku memutuskan untuk pulang kampung. Terhitung sejak 2 Juni aku sudah meninggalkan Bandung dan seluruh aktivitas yang menjemukkan disana. Sebenarnya aku masih ingin berlama  - lama disana, untuk menyelesaikan to do list yang bertumpuk. Tapi apa daya ndoro sudah nelpon untuk segera pulang. Jadi, yaa sudahlah tinggal ngikut, mungkin tugas2nya bisa kukerjakan waktu di Rembang. But, my trip holiday to Surabaya failed. Rencana sebelum pulang aku mau jalan - jalan ke Surabaya tanggal 7 Juni, bertepatan dengan selesainya UAS teman - temanku disana, tapi karena rentang perjalanan yang terlalu jauh dari 'perintah' pulang, alhasil aku harus membatalkannya. Btw, aku punya plan untuk jalan - jalan sebelum pulang ke kampung.

Tanggungan Liburan : Gladi Posko KDSP, Menwa Ops, Show OSKM, Pencalonan KOLABORASA, HMS, baca buku, belajar bahasa inggris, dll.

Hari Pertama Pulang
Aku tak langsung pulang, aku mampir ke bekasi. Kenapa? karena aku ingin beli aksesoris HP sebenarnya. Harusnya di Bandung ada, tapi karena stock barang habis , aku harus mencari ke bekasi sekalian mampir ke rumah saudara. Terhitung aku disana selama 2 hari. Melihat kota bekasi lebih dekat (ya gak deket  deket amat). Menurutku bekasi terbilang cukup menarik, ya walaupun memang kepadatan penduduk nya hampir sama dengan Bandung, namun disini terlihat lancar - lancar saja ditinjau dari segi Volume kendaraan. Ya, kalau sudah mendekati jam puncak sama aja kaya Bandung sih. Lebih banyak mall dan pusat pertokoan lain disini, benar - benar kota dagang hehe.











Ya itu salah satu, sudut pemandangan kota Bekasi. Bagus juga ternyata. Yang di foto itu icon nya Summarecon (Daerah pusat lifestyle dan entertaiment di Bekasi).
P.S : Tepat esok hari Madrid resmi memenangkan Liga Champions again

Hari Ketiga dari kepulangan (Senin, 5 Juni 2017)
Yee, akhirnya aku benar - benar menuju Rembang, aku datang dan mengijakkan kaki di Rembang dini hari jam 3. Sahur pertama di Rembang.

Rabu, 7 juni 2017
Aku diajak mama untuk menjemput mbah uti & kakung di pondok terapi, hari ini tepat seminggu beliau di pondokkan. Pondok terapi ini adalah pondok berbasis pengobatan islam. Dimana para pasien tidak diobati secara langsung dengan praktek kedoteran, maupun obat - obatan. Tetapi disini , para pasien menginap dan diobati dengan doa - doa dari pak kyai ( org biasa menyebutnya begitu).
Setiap harinya pasti akan terdengar lantunan ayat - ayat suci Al- Qur'an terdengar dari sound ukuran sedang dari kamar pusat pengobatan dan akan terdengar ke kamar - kamar inap para para pasien. Mungkin ini salah satu metode penyembuhan yang unik dan efektif, karena akan langsung menyentuh ke alam bawah sadar pasien. Pasien disini akan dijaga pola makannya, di cek oleh pak kyai atau bu nyai setiap hari. Dan mendapatkan pengawasan yang cukup baik oleh para pembantu di sana. Biaya untuk inap per orang 75k/hari sudah termasuk makan 3 kali sehari. Biaya yang terhitung murah dibanding dengan rawat inap di tempat - tempat pengobatan yang ada di kota. Ohiya, memang tempatnya di desa dan jauh dari pusat kota. Jadi ini lebih bisa mesugesti suasana. Unik dan berbeda pokoknya.

Kamis, 8 Juni 2017
Seperti biasa, aku main ke tempat yang selalu kukunjungi di setiap liburan kuliahku. PERPUSA (Perpustakaan Daerah). Tak banyak katalog buku disini, namun selalu ada saja bahan bacaan yang menarik. Selain itu kemungkinan besar adalah hotspot kencang yang selalu kumanfaatkan untuk surfing dunia internet dalam menunjang liburanku hehe, berhubung tidak ada wi-fi di rumah tercinta. Kali ini yang kupinjam buku - buku bertemakan kepemimpinan dan manajerial. waw, kira- kira buat apa ya hehe. Ada deh.










ohiya ini link hasil resume nya  https://drive.google.com/file/d/0B7NQJrOIZA_OMGxXTGxaVm91aDA/view?usp=sharing

Sabtu, 10 Juni 2017
Ada 2 kursus yang kuterima hari ini, pertama kursus nyetir dari ayah langsung hehe, kebetulan aku dijanjikan untuk belajar nyetir mobil waktu liburan, dan kedua kursus gitar. And if you know that's today is my Father's Birthday. Wah - wah harus beli apa ya aku. Btw, umur ayahku mendekati kepala emas 50 tahun. Sebenarnya aku sudah menyiapkan baju koko buat ayah dari Bandung sih. Ya, selebihnya surat cinta untuk Ayah yang sudah kupersiapkan 2 hari sebelumnya.












Cerita selanjutnya lihat di tulisan selanjutnya yaa. Stay tune di blog ini
Baca selengkapnya

Sabtu, 27 Mei 2017

Mozaik Manusia Indonesia

Mozaik Manusia Indonesia

Dikutip dari buku yang judulnya sama

Bagaimana kita menyadari kenyataan diri, sebagai manusia, sebagai bagian dari komunitas atau sebuah bangsa? Realitas manusia sebagai pribadi atau kolektivitas sebenearnya selalu berada dalam keadaan goyah. Tak ada satu pun pengikat yang begitu kuat dan mematri keberadaan manusia.

Tapi manusia bagaimanapun - ia sebenarnya adalah satu spesies tunggal yang pada mulanya tak berbeda, tak beridentitas, tak berkelas, dan sebagainya- ternyata terus membutuhkan suatu hal yang mendakam bahwa ia "ada". Karena "kenyataan" keberadaan atau eksistensi itulah yang memberi merkea alasalan untuk apa saja: untuk tahu dimana ia, kemana berjalan, dari mana datangnya; untuk hidup, atau sekedar untuk menyatakan "ini aku".  Yang membuatnya kontemporer adalah pemaknaan atau penetapan indikator yang selalu berubah seiiring perkembangan zaman.

Secara umum, kebanyakan manusia ( dalam level maupunmatra, apa pun dia) lebih kerap menggunakan alasan - alasan tradisional untuk menegaskan keberadaan jati diri seseorang, yang umumnya berimplikasi pada gerak mundur melihat realias - realitas yang pernah ada dalam hitoriografi dirinya. Di posisi ini, sesungguhanya kita (manusia) selalu menghadapi problemasi yang cukup serius. Ketika sumber kesejarahan sesungguhnya bukanlah hal yang memiliki garansi dalam pertanggungjawaban kebenaran, akurasi, atau otentisnya. Betapapun tradisi adalah sesuatu yang liquid: mengambil bentuk sesuai sungai waktu yang engalirinya. Begitupun buku - buku sejarah, yang sangat kita mafhumi, sebagai hasil saru kosntruksi dari kekuatan - kekuatan dominan, baik secara politik, ekonomi, sosial atau kultural.

Dominasi Mitologi Arya

Salah satu cerita hebat yang kita berkembang (bahkan mulai dari) Eropa, Asia Tengah, Selatan, hingga ke Tenggara. Sebuag moda kisah yang dibangun oleh peradaban Arya, tentang penaklukan sevuah bangsa yang kemudian memuliakan dirinya sebagai cikal bakal lahirnya bangsa baru. Cerita tentang Ramayana dimana Rama , raja pendatang yang cakap berperang, cakap ilmu, cakap wajah bahkan cakap meilih istri. Kecakapan inilah yang membuat iri penguasa lokal , tenang kecakapan memilih Istri Sinta.

Maka raja nun sakti Dasamuka Raja Alengka pun menculik Sinta. Rama yang dibantu adiknya yang tampan, Laksmana pun akhirnya mengahakan Raja Alengka yang kesaktiannya konon mampu membuat "dewa pun sembunyi karena takutnya". Dan dengan bantuan ribuan , mungkin jutaan kera, dipimpin Hanuman " Sang Angkara Murka", raksasa Rahwana pun tumbang.  Berjayalah bangsa Arya , bangsa pendatang, dengan ciri khas : kulit putih, rambut ikal/lurus, wajah oval, dari yang sebelumnya bangsa penguasa lokal, dengan identitas biologis yang berkulit gelap, mata hitam rambut keriting, dan tubuh relatif pendek.

Mitologi penaklukan oleh bangsa pendatang pada bangsa lokal itulah yang biasa kita sebut dengan kolonialisasi dalam bahasa modernnya. Rahwana sesungguhnya adalah Hero bagi Pulau Cylon - pulau terakhri pengasingannya- atau yang tenar dengan Srilangka (Sri Alengka). Pola inilah yang tumbuh subur dengan berbagai varian dalam komunitas lain.

Arya Di Jawa

Pola yang sama nampaknya muncul di negiri kita , negeri kepulauan ini. Setidaknya di pulau jawa dari asal usul cerita pembentukan alfabhet jawa atau yang biasa dikenal aksara jawa. Adalah Mangkunegara IV yang mencoba menetapkannya tanpa ada satu pujangga pun yang mencoba membantahnya setelahnya.

Sebagaimana yang umum diketahui, bermula dari kedatangan pangeran dari India Selatan bernama Ajisaka , dalam berbagai versi, mengabdi pada raja lokal yang perkasa, digdaya, tapi bengis penuh angkara murka, Dewata Cengkar.  Karena tak kuat melihat penderitaan rakyat sang pangeran mundur dari jabatannya.  Sebelum mundur maka raja menwari permintaan terakhir kepada Ajisaka. Ajisaka hanya meminta satu petak tanah seluas penutup kepalanya. Raja tertawa karena permintaannya hanya segitu. Ajisaka kemudian meningkatkan permintaan menjadi sepetak tanah yang kau lompati dari kain tersebut. Singkat cerita kain tersebut bisa memanjang ke mana saja langkah raja pergi. Raja nan sakti mandraguna ini pun mencoba menggunakan kekuatannya untuk melangkahkan kaki sejauh mungkin. Hingga akhirnya raja terdepak hingga ke Banyuwangi dan salah satu asal - usul pulau Dewata.

Alasan Arkeologis

Betapa gamblang sebenarnya analogi yang digambarkan. Tapi apakah terlintas di benak kita untuk berpikir bahwa pada Tokoh  - tokoh antagonis tersebut memiliki riwayat dan jatidir lain dari yang diceritakan. Ya, sejenak kita terlalu terpaku dengan statement bahwa Antagonisme bukan saja harus dilawan tapi juga dienyahkan, dilenyapkan dari bumi bahkan dihapus dari Ingatan. Seolah - olah kita tak mau tahu tentang seluk beluknya.

Satu Eksistensi Mozaik Indonesia

Disorientasi, kekacauan atau chaos kebudayaan ini  memperlihatkan ketahan budaya kita sebenarnya mengalami guncangan akibat benturan budaya yang sangta keras. Dimulai dari kolonialisme, modernisme, dan demokratisme belakangan, ktia seperti tersaruk - saruk mengais identitas bagi diri sendiri. Bagi sebuah kepulauan seperti negeri ini, kecendurngan untuk melihat adanya satu identitas tunggal jga menjadi ideal bagi kebnyakan, sebagaimana juga bangsa2 lain. Akahirnya usaha - usaha menyatukan seluruh unsur ideal, yang pernah ada, yang dianggap ada, bahkan diharapkan ada memberi landasan moral. Usaha keras tersebut, bukan saja berjalan tanpa arah, menimbulkan pertentangan, meminta korban (khasanah budaya lokal yang mati dan hilang), tapi juga menafikan suatu realitas yang sebenranya membangun kebredaaan peradaban kepualauan oitu sendiri , yaitu : keberagaman budaya.

Ya pada akhirnya manusia akan menyadari bahwa tidak ada entitas tunggal untuk itu semua. Yang ada hanyalah satu susunan berbagai variasi itu, dan berbagai warna dan aneka itu. Kita adalah sebuah mozaik, dari pecahan keramik - keramik simbol, sebuah gerabah yang disususun dari rekatan - rekatana pecahan gerabah, gerabah yang rapuh. Bahkan tak apa, jika suatu ketika, gerabah yang rapuh ini jatuh dari meka, dan tertebar berserakan ke segala arah. Mekanisme perekatan yang dilakoni ribuan tahun akan memabwa pecahan - pecahan itu ke dalam satu gerabah baru. Sementara di bagian dunia lain, ia tinggal menjadi separasi, pecahan - pecahan yang berdiri sendiri. Karena Ego, karena logika modern, atau kaena prosedur demokratsinya.

Barangkali, itulah mebgapa Indonesia Bertahan sampai kini.


Baca selengkapnya

Kamis, 11 Mei 2017

Review Novel : 40 DAYS IN EUROPE

Review Novel : 40 DAYS IN EUROPE

40 DAYS IN EUROPE
KARYA : Maulana M. Syuhada
Selamat pagi dunia, mencoba produktif kali ini aku akan mencoba mereview sebuah novel yang menurut aku bagus dan menginspirasi (wkwk karena kebetulan aku bacanya ini). Diungkit dari kisah kelompok musik Indonesia menaklukan daratan Eropa, novel ini menceritakan perjuangan grup music angklung dari Bandung yang dengan dana yang minimum dapat sukses roadshow di daratan eropa.
Sedikir menceritakan profil penulis, Kang Maul (sapaan akrab penulis) adalah seseorang lulusan Teknik Industri ITB 2001, ia lalu pergi ke Jermanuntuk melanjutkan pendidikan master di bidang Manajemen Produksi di Technische Universitaet Hamburg – Harburg. Kang maul adalah seorang aktivis. Ya, lebih tepatnya aktivis seni. Baik semasa SMA di SMA 3 Bandung, Kuliah di ITB , sampe S2 di Jerman tak ada sedikitpun waktu dilalui tanpa pagelaran seni yang diikuti olehnya. Ya dia memang pecinta seni sejati, khususnya seni sunda. Aku yang bahkan bukan orang sunda sedikit demi sedikit tertarik dengan kesenianya, terutama Angklung. Dimana alat yang terbuat dari potongan bambu ini bisa menghasilkan pertunjukkan yang luar biasa dengan nada – nada yang hebat.  Angklung, alat musik luar biasa yang mengkolaborasikan ritme, kekompakan, dan timing yang tepat.
“ Untuk 35 orang saudaraku yang senantiasa percaya akan kekuatan ikhtiar, keajaiban doa, dan kebesaran Tuhan.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dengan kerja keras, doa , dan pertolongan- Nya, segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.”
Tulisan Kang Maul di halaman pertama bukunya, yang akhirnya ketika aku selesai membacanya perlahan aku mulai mengamini kalimat itu.  Bagaimana perjuangan mereka untuk menghadapi berbagai kendala yang dihadapi mulai dari waktu latihan, dana kegiatan, hingga perizinan dari satu negara ke negara lainnya. Rangkaian konser yang diberi nama ESA (Expand the Sound of Angklung) ini menceritakan secara lengkap bagaimana tim Angklung dari SMA 3 dan para senior alumni yang ikut bergabung dalam tim ini secara bahu membahu saling berjuang demi mewujudkan mimpi mereka keliling Eropa. Aku yang dari dulu bermimpi pengen ke Eropa jadi terbawa suasana menegangkan dari setiap halaman demi halaman dari buku ini.
Sedikit me review cerita, Kang maul yang seperti aku katakana tadi adalah seorang mahasiswa program master pada salah satu kampus di Jerman. Ya walaupun kesannya mahasiswa program master tapi tetap saja kang maul ini masih menerapkan pola hidup anak – anak S1 ala perantauan. Hehe, ini kualami banget, dimana prinsip pengetatan budget adalah prinsip utama setelah sholat 5 waktu. Ya kang maul juga sama, walaupun embel – embel kualiah luar negeri tapi kehidupan tetap sama saja, no foya- foya, no hedon, and keep the money still balanced. Di Jerman kang maul juga sering tampil dalam acara – acara atau pekan seni budaya Indonesia yang biasaya diadakan Kedubes Negara – negara atau bahkan kota – kota yang bersangkutan. Kang maul juga sering melamar kerja sampingan untuk membiayai kehidupan kuliahnya, wkwk benar – benar sebuah perjungan. Gak semua kerja sampingan itu enak, ya walaupun dapet uang tapi juga menguras tenaga dan hati, hehe. Seringkali dia ditolak buat ngelamar proyek ataupun pekerjaan sampingan buat mahasiswa di Jerman (namanya aku rada lupa maafkeun). Tapi dia selalu aja daftar lagi, daftar lagi, kalau kata kang maul, begitulah mental mahasiswa, seperti halnya cinta sudah ditolak berkali – kali masih saja menaruh harapan. .
Singkat cerita 9 kota tujuan tour de Europe ini mendapatkan sinyal hijau. 9 kota ini meliputi tiga buah kota festival (Aberdeen, Cerveny Kostelec, dan Zakopane) dan enam buah kota konser (Bremen, Berlin, Brussel, Praha, dan Muenchen). Ohiya, festival dan konser maksudnya, kalau festival adalah negara yang kebetulan pada saat itu mengadakan festival budaya di salah satu kotanya dan kita dapat turut hadir meramaikan pagelaran musikal nya, sedangkan konser adalah kota yang kita datangi untuk keperluan kita sendiri mengadakan pagelaran musik. Biasanya festival sudah dibuka pendaftrannya jauh – jauh hari. Dan untuk konser hanya sebagai kota – kota buffer (penyangga) untuk keberangkatan dan mengisi jeda kosong dari satu kota festival ke kota festival yang lain. Ohiya walaupun saya langsung loncat ke ktoa – kota yang akhirnya tim ESA 2 dapatkan, tapi sebenarnya perjuangan mereka mendapatkan konfirmasi antar kota tak sesingkat yang saya ceritakan, dan malah menjadi hal yang seru. Kang Maul yang notabene satu – satunya anggota tim yang tinggal di Eropa lah yang harus bersusah payah mengontak dan konfirmasi satu persatu kota tujuan. Lucunya, seringkali dia harus berangkat ke negara – negara tujuan tersebut untuk mendatangi pihak panitia dan EO yang sanggup mengani mereka, dengan tetap memepertahankan prinsip PENGETATAN BUDGET. Sementara kak desiree yang di Indonesia mengurus visa anak – anak ESA yang bolak – balik Jakarta – bandung yang dulu belum ada kereta. Ohiya sebelumnya mengapa tadi tertulis tim ESA 2 , karena tim ESA pertama juga sudah pernah ada. Dan itu waktu kang Maul amsih kuliah di ITB, hanya saja daftar tour eropanya lebih sedikit daripada yang tim ESA 2 kali ini.
Dan akhirnya dimulailah pertualangan menjelajah kota – kota tujuan ini. Canda , tawa, haru, panik, marah, kesal bercampur jadi satu pada rangkaian tur tersebut. Dan asal tahu saja mereka berangkat dengan dana jauh memenuhi target tersenlenggaranya acara. Ya kalua kata orang Surabaya Bonek aja (Bondo Nekat). Dari masalah barang – barang yang overload dan harus dikirmkan kemudian hari padahal besok nya mereka ada konser perdana, dari Peti Bass Betot yang harus ditinggal di salah satu kota karena tidak bisa memasukan ke bis, berganti kostum di Bisk arena dikejar – kejar waktu, hingga acara pengucapan janji cinta di bawah Menara Eiffel saat tur di Paris. Dan di novel ini cerita dan masalah akan sangat amat kompleks lagi dan mendebarkan.
Pada saat mereka menyelesaikan semua tur, sesaat semuanya tampak sudah selesai. Tapi sebenarnya jauh dari itu semua proses yang memakan emosi dan hati itulah yang mengajarkan mereka banyak hal. Mereka yang bernagkat dengan DEFISIT besar pulang dengan SURPLUS besar. Surplus itu sebagian besar bukan uang, melainkan pengalaman hidup yang sangat dikenang. Sepanjang kita masih percaya akan keberadaan –Nya , sepanjang itulah kesempatan selalu terbuka. Jika Tuhan berkehendak, dengan perjuangan dan keyakinan tinggi, bukit seterjal apapaun bisa didaki!.
Sekian review dari saya, direkomendasikan untuk lebih membaca bukunya disbanding percaya kata – kata reviewers ini.Terakhir saya kutip kalimat dari Kang maul sebagai penutup review novel ini.
“ Jika mereka tahu bahwa di Bandung biasanya kami makan lagsung dengan tangan bukan garpu dan pisau yang ribet seperti ini. Dan bagi saya itulah cara makan paling nikmat sedunia. “ –Maulana M. Syuhada


Baca selengkapnya

Minggu, 02 April 2017

WISUDA APRIL ITB 2017

WISUDA APRIL ITB 2017

Wisuda april ITB ini merupakan wisuda pertama di tahun 2017 yang melibatkan seluruh komponen dari seluruh lembaga kampus. Mulai dari Rektorat yang sibuk mengurusi mahasiswa - mahasiswa yang lulus, lembaga lain seperti UPT K3L (Unit Pelaksana Teknis Keamanan, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan ) hingga LK (Lembaga Kemahasiswaan) ITB pun turut terlibat dalam prosesi paling bersejarah 3 kali dalam setahun di ITB ini. Wisuda sendiri bagiku merupakan tantangan baru bagi para wisudawan untuk melihat dunia secara lebih terbuka dengan segala polemik lengkapnya yang butuh untuk segera diselesaikan. Ya , memang di satu sisi wisuda telah melepaskan beban para lulusannya dari tuntutan akademik. Tapi tidak untuk  beban dari berjuta rakyat Indonesia yang telah menunggu para lulusan tersebut untuk memajukan bangsa ini. 

"Dan mahasiswanya , dengan independensi yang masih terjaga, dengan pola pikir logis - solutif - visioner yang tajam. Dengan potensi kolaborasi multidisiplin sains - teknik - seni - bisnis yang luar biasa, dengan kemampuan dan kecerdasan untuk mengembangkan serta mengaplikasikan ilmu yg didapat di kelas juga diluar kelas, dengan akses informasi dan relasi yang tiada batas, dengan wawasan global - aktual yang membentuk cakrawaka luas, dan jalan yang telah ditilaskan oleh para mahasiswa pendahulu kita, itu semua adl potensi yang sangat besar utk memajukan indonesia."

"Dengan potensi yg begitu besar mengapa indonesia masih menjadi " negara berkembang" sebuah penghalusan dari negara tertinggal. Padahal suadah lebih dari 50 angkatan itb yg lulus. Sampai kapan kita berada dlm keadaan negara yg carut marut seperti sekarang. Apakah anak itb diam saja melihat keadaan ini. Atau memang karena tidak tahu? Atau tidak mau tahu? Atau lebih parah tidak mau berbuat apa - apa."

Sepertinya anak ITB cenderung senang berada pada zona nyaman masing - masing. Padahal yang dibutuhkan adalah bergerak bergerak bergerak !

Wisuda ITB budayanya ITB

Ya terlepas dari semua intermezzo diatas , hal menarik yang patut diapresiasi adalah bahwa wisuda pertaa di tahun 2017 ini meluluskan 1.543 Wisudawan yang berisikan 644 orang program sarjana. Sebuah hal yang bisa dibilang waw, mengingat jumalh yang banyak bagi sebuah event wisuda pertama di tahun ini.
Dan acara di Sabuga (Sasana Budaya Ganesah) melibatkan banyak elemen kampus seperti UKM yang terlibat. Terhitung mulai dari penampil seperti PSM, KPA, LSS hingga Unit penyokong acara seperti Menwa di bagian pengamanan acara, LFM pada dokumentasi wisuda, hingga Para protokoler yang membantu mengarahkan acara hingga berjalan lancar. Bisa dikatakan wisuda merupakan event yang paling chaos diatara acara yang dimiliki ITB.
Tak berhenti hanya pada prosesi sidang di sabuga, tetapi setelah selesai dari peresmian tanda kelulusan tersebut, para wisudawan akan dijemput oleh masa himpunannya untuk diarak sekeliling kampus sebagai apresiasi atas kelulusan mereka. Arak – arakan merupakan salah satu budaya kampus ITB yang mungkin tidak dimiliki kampus lain, selain menjadi penghargaan dari masa kampus terhadap wisudawan yang lulus, ini juga menjadi sebuah apresiasi terakhir karena saya tahu lulus di ITB pun tidak semudah yang dibayangkan.
Persiapan untuk wisuda ini telah disiapkan berbulan – bulan, menghabiskan biaya beratus juta, penyiapan event organizer baik dari KM ITB secara keseluruhan ataupun himpunan dan unit – unit kegiatan. Sudah dari jauh – jauh hari mereka menyiapkan untuk acara yang hanya berlangsung 1-2 hari ini. Jika dilihat agak boros juga jika mengadakan seluruh rngkaian acara apresiasi ini hanya untuk 1 -2 hari acara, tetapi bagiku ini juga merupakan ajang apresiasi terakhir dari masa kampus untuk para wisudawannya.
WISUDA HMS ITB
Kebetulan aku berada pada Organisasi Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB sebagai wadahku berkontribusi pada apresiasi ini. Pada wisuda periode ini kita mengangkat tema magical world. Rangkaian wisuda HMS ini terdiri dari beberapa acara mulai dari wisnight hingga wisday. WIsnight adalah acara seperti malam apresiasi dari panwis (panitia wisuda) terhadap para wisudawan. Acara ini berisi acara seru – seruan yang dikoordinir oleh panwis. Lalu yang kedua adalah wisday, yaitu acara utama terdiri dari arak – arakan keliling kampus, lorong apresiasi dan acara pen – nonhiman oleh kahim. Ya intinya acara apresiasi terbaik dari masa himpunan untuk wisudawan.
Gambar tersebut adalah apresiasi di tunnel yang paling ditunggu oleh himpunan dan masa kampus. Yel – yel dan mars himpunan diikuti orasi oleh perwakilan lembaga mewarnai lorong itu. Di wisuda HMS kali ini aku berposisi sebagai barikade yang membentuk segi empat untuk menjaga wisudawan dari para masa hms yang sudah lulus. Entah itu disemprot oleh air maupun disabet pakai tongkat koran yang sudah menjadi budaya hms entah dari kapan.
Ya mungkin aku cukupkan ceritaku mengenai wisuda dikarenakan ada tugas yang sedang menghantui
L, (KEHIDUPAN ITB YANG MENCEKAM HAHA). Mungkin lain waktu, atau wisuda selanjutnya aku akan bercerita banyak untuk wisuda HMS ku ini.
ohiya ini salah satu teaser wisuda setahun lalu, siapa tahu kalian jadi tahu gambaran wisuda yang kujelaskan secara abstrak diatas.

https://www.youtube.com/watch?v=k3aoEyeKZso

PS: terakhir apresiasi terbesar untuk LFM yang mengerahkan seluruh anggotanya untuk mendokumentasikan semua acara wisuda secara lengkap dan komprehensif di semua lembaga yang terlibat. dabest lah buat mereka. Hasil dokumetasinya bisa dilihat di youtube ya :) hehe
Baca selengkapnya

Selasa, 28 Maret 2017

Kendeng dan Segala Polemik di Hatiku

Kendeng dan Segala Polemik di Hatiku

[Kendeng dan Segala Polemik di Hatiku]

Sore itu Ba’da Ashar di Selasar Teh Salman

Aku bertemu dengan teman dekatku Arif, sontak arif langsung melemparkan pertanyaan kepadaku yang baru saja datang. “Pye di?”
“Pye tentang apa?”
“ Itu tentang Kendeng, pye kuwe?”
“wah mboh rif, aku juga masih bingung. Bingung mau bela yang mana”
“ Kalau aku netral sih, tapi jelas gitu. Masalahnya apa, latar belakangnya apa. Jadi punya pegangan.”
“ Paling pas liburan aku sama temen2ku bakal ngecek kesana”

Sekilas Isu Kendeng nampak ramai diperbincangkan , Jadi Kendeng itu dimana dan apa sih masalahnya.

Jadi, sepengatahuan saya, di pulau jawa itu terdapat sebuah pegunungan batu kapur yang memanjang dari Barat ke Timur. Nah salah satunya adalah Pegunungan Kendeng Utara yang memanjang dari Kabupaten Kudus hingga Kabupaten Tuban. Pegunungan in bukanlah pegunungan vulkanik melainkan pegunungan kapur atau dalam istilah geologi disebut karst. Sifat batuan karst yang berpori memungkingkan untuk menjadi medium meresapnya air dari permukaan yang kemudian membentuk aliran sungai bawah tanah. Di beberapa wilayah, area pegunungan kapur ini biasanya kering di permukaan tetapi memiliki cadangan air yang cukup banyak untuk dialirkan melalui mata air atau pun melalui proses pengangkatan.

Nah problem sekarang Pegunungan Kendeng akan dijadikan wilayah penambangan batu kapur sebagai bahan material semen, dan sudah pasti juga akan berdiri pabrik semen sebagai tempat produksinya. Nah masalahnya, Warga sudah banyak menggunakan Pegunungan Kendeng ini sebagai sumber penghidupan. Entah sumber aliran air yang digunakan untuk bertani, sekedar minum dan mandi, ataupun Goa – goa yang ada digunakan sebagai tempat wisata kekayaan alam lokal.

Disini terjadi perbedaan pandangan antara warga desa dengan pemerintah yang memiliki akses untuk accept or not kepada pabrik semen yang berdiri (sampai sekarang kegiatan penambangan sudah dilakukan di Rembang) . Masyarakat yang menolak pendirian pabrik semen menilai bahwa cukup dengan bertani, mereka sudah bisa menghidupi diri dan keluarga. Toh Mereka masih kekeuh bertani guna menjadikan Indonesia berdaulat pangan sesuai nawacita Jokowi. Tetapi pihak lain yang pro terhadap pendirian pabrik semen mengatakan bahwa ini langkah menuntaskan kemiskiskinan dan pengangguran di masyrakat. Masayrakat juga nanti akan merasa terbantu dengan dibukanya lapangan pekerjaan untuk mereka.

“ Sedih aku di yang notabene selalu pulang kampung saat lebaran. Tapi baru tahu masalah kendeng baru – baru ini”
“Apalagi aku rif, perasaanku carut marut mengigat aku putra daerah sana. Tapi tidak bisa membantu apa – apa”

Dulu, awal keluar isu pendirian pabrik semen ini., hatiku berontak. Aku kontra terhadap pendirian pabrik semen ini dan lebih pro ke rakyat. Apalagi dengan disuguhi bacaan – bacaan yang notabene menulis tentang dampak penambangan. Aku semakin kontra terhadapnya. Nuraniku berkata bahwa akan terjadi apa – apa jika lingkungan telah dirusak dengan ekploitasi penambangan terutama Sumber daya Alam yang tak bisa diperbarui seperti halnya Kendeng. Aku pernah mendapatkan cerita kenapa banyak warga Jawa Tengah yang menolak pendirian pabrik – pabrik yang tujuannya eksploitasi SDA. Jadi diibaratkan Pulau jawa ini sebagai satu kesatuan anatomi tubuh, dimana terbagi menjadi 3 bagian besar. Yaitu Jawa Barat sebagai kepala , Jawa Tengah sebagai perut , dan Jawa Timur sebagai Kaki. Nah untuk menyuplai kepala dan kaki sebagai induk dari pergerakan maka Jawa Tengah sebagai perut nya harus menyediakan kebutuhan – kebutuhan gizi yang baik. Makanya banyak lahan di Jateng dijadikan sebagai lahan pangan entah itu perkebunan , pertanian , dll.

Nah yang aku gelisahkan lagi, Indonesia itu sudah sanggup ekspor semen ke mana – mana, sedangkan untuk kebutuhan pangan Indonesia masih impor beras!. Sudah tahu gini apa lahan pertanian masih ingin dikurangi lagi kuantitasnya. Bingung Indonseia maunya dibawa ke mana.
Aku masih berusaha untuk menggelisahkan diri dan mencoba geram mengenai kasus ini supaya aku tetap bisa mencari titik terang keberadaan kebenaran dan berjuang untuk memajukan tanah air ini, sebisa mungkin. Tapi aku tahu kesimpulan tak boleh di ajukan di awal, ikuti prosesnya dan aku akan sedikit demi sedikit mendapatkan jawabannya.

Tapi beberapa waktu lalu aku tersontak kaget membaca tulisan salah satu postingan di Fb

https://web.facebook.com/groups/infoseputar.rembang/permalink/1893556764255086/

ya intinya kontra nya beberapa kelompok masyarakat tadi sebenernya digerakkan oleh suatu lembaga dan punya maksud tersendiri. Pihak yang oposisi semen ini memiliki tujuan untuk menghambat pendirian pabrik semen yang akhrinya akan menguapkan modal besar investasinya, dan nantinya akan mendirikan pabrik yang sama dengan kepentingan pribadi. Ibaratnya melarang pabrik plat merah yang berdiri untuk memperlancar mendirikan pabriknya sendiri.

Sampai saat ini polemik masih menyelimuti pikiranku. Ya , aku masih mencari kebenaran akan hal ini. Dan kebeneran yang kucari sebenarnya bukan berada pada media – media di luar sana, tapi di tempat munculnya kejadian dimana aku bisa melihat langsung apa yang terjadi dan bisa memaknainya langsung. Insyaallah pas liburan aku akan pulang kampung dan mengajak teman – temanku untuk langsung terjun ke TKP melihat masalah itu langsung, dan segera membantu mencari solusi . Dan semoga rasa kegelisahanku bisa terbayarkan tuntas pada hari itu.

Ini adalah sedikit kegelisahanku tentang Kendeng yang dapat dituangkan pada sebuah tulisan absurd ini, saran kritik atau mungkin kebenaran pribadi dapat dituangkan di bawah sebagai sarana diskusi untuk dijadikan solusi.

Terimakasih
Baca selengkapnya